
MANILA, iNews.id - Filipina menarik duta besarnya di Kanada dalam ketegangan yang meningkat terkait sampah. Kanada dianggap melanggar batas waktu untuk mengambil kembali 69 kontainer berisi sampah di Filipina.
Dilaporkan BBC, Jumat (17/5/2019), Menteri Luar Negeri Filipina mengatakan, Kanada melewati tenggat tanggal 15 Mei untuk menarik kembali sampah yang mereka kapalkan pada 2014.
Bulan lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan dia akan "berlayar ke Kanada" membuang sampah itu di sana.
Berbagai laporan menyatakan sampah itu berjumlah puluhan kontainer yang dipenuhi sampah rumah tangga seperti misalnya popok bekas pakai.
"Tengah malam tadi, surat untuk memanggil duta besar dan konsul di Kanada sudah kami kirimkan," kata Sekretaris Kementrian Luar Negeri Filipina Teddy Locsin Jr, dalam cuitannya di akun Twitter.
"Kanada telah melewati tenggat waktu dan kami akan menarik misi diplomatik kami dari Kanada sampai sampah itu dikirim lagi ke sana."
Mr Locsin mengatakan, pemicu penarikan diplomat mereka adalah kegagalan Kanada untuk muncul pada pertemuan dengan petugas bea cukai Filipina.
Dia juga mengirim cuitan ke Departemen Luar Negeri Filipina dan mengatakan, "Kepada diplomat kita di Kanada: Perintah sudah disampaikan. Terbang keluar dari sana segera."
Sementara itu, Kedutaan Besar Kanada di Manila mengatakan kepada BBC bahwa mereka sudah "membuatpenawaran untuk mengembalikan sampah ke Kanada.
"Kami sedang bekerja sama dengan Filipina untuk memastikan pengiriman kembali sesegera mungkin," bunyi Kedutaan Besar Kanada di Manila.
Bagaimana perselisihan ini meningkat?
Pihak berwenang di Filipina pertama kali mengangkat isu sampah ini dengan Kanada pada 2014, setelah menemukan kontainer penuh sampah dikapalkan antara 2013 dan 2014.
Manila menyatakan kontainer-kontainer itu, yang tiba di Pelabuhan Kontainer Internasional Manila, dilabeli secara keliru sebagai bermuatan plastik untuk didaur ulang dan nyatanya dipenuhi oleh berton-ton sampah rumah tangga.
Inspeksi lain pada 2015 menemukan kontrainer itu berisi sampah tak beracun seperti sampah rumah tangga dan sampah yang berasal dari jalanan.
Beberapa kontainer itu masih berada di ruang penyimpanan di pelabuhan Manila, sementara beberapa lainnya dibuang di tempat pembuangan sampah.
Pada 2016, pengadilan Filipina memerintahkan sampah itu dikembalikan ke Kanada dan biayanya dibebankan kepada importirnya.
Di tahun yang sama, Kanada mengubah peraturan mereka soal pengapalan sampah berbahaya untuk mencegah hal seperti ini terulang kembali.
Awal bulan ini, Presiden Duterte mengkritik keras Kanada, mengatakan mereka mengubah negerinya menjadi "tempat sampah".
Tantangan sampah global -dan tempat pembuangannya- merupakan masalah yang terus berkembang. Namun sejak larangan "sampah asing" dilakukan oleh China pada 2017, jumlah persoalan ini meningkat ke permukaan.
Pada tahun itu saja, China mengambil tujuh juta ton sampah plastik, dengan ide bahwa sebagian besar sampah itu bisa diproses untuk didaur ulang. Namun nyatanya sebagian besar merupakan sampah yang tak bisa didaur ulang.
Banyak juru kampanye lingkungan hidup menganggap hal itu sebagai kemenangan ketika China melakukan larangan tersebut. Jumlah plastik yang diimpor oleh China turun 94 persen antara 2016 hingga 2017 dan 2017 hingga 2018.
Namun sebagian besar sampah ini kemudian dikirimkan ke negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina.
Editor : Nathania Riris Michico
http://bit.ly/2Hnz0Yf
May 17, 2019 at 04:04PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Geram Gara-Gara Sampah, Filipina Tarik Dubesnya dan Usir Diplomat Kanada"
Post a Comment