
WASHINGTON, iNews.id - Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) menyatakan kepada berbagai maskapai bahwa mereka yakin model Boeing 737 Max 8 laik terbang, walau terjadi dua kecelakaan mematikan dalam lima bulan.
Pesawat Ethiopian Airlines ET-302 yang sedang dalam perjalanan ke Nairobi jatuh enam menit setelah lepas landas dari Addis Ababa pada Minggu (10/03), menewaskan 157 orang.
Insiden itu menyusul jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 pada Oktober 2018 lalu yang menewaskan 189 orang.
Sejumlah kalangan dalam komunitas penerbangan meminta pesawat tersebut dilarang terbang untuk sementara, selama dilakukan penyelidikan secara menyeluruh.
Akan tetapi pada Senin malam, Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) melanjutkan notifikasi laik terbang yang menyebut pesawat model itu aman untuk diterbangkan.
Pemerintah Indonesia, China, dan Ethiopia pada Senin (11/03) memerintahkan para maskapainya untuk menangguhkan penerbangan pesawat model tersebut. Maskapai lain tetap menerbangkan 737 Max 8 setelah Boeing menyatakan bahwa pesawat tersebut aman.
Saham di Boeing anjlok sebesar 12,9 persen pada Senin, menyusul kecelakaan Ethiopia Airlines.
Apa kata badan penerbangan AS?
Dilaporkan BBC, Selasa (12/3/2019), Menteri Transportasi AS, Elaine Chao, berkata bahwa FAA akan segera mengambil langkah yang tepat jika kecacatan ditemukan pada pesawat.
"(Notifikasi) ini memberi tahu komunitas internasional di mana posisi kami dan (memberikan) sebuah jawaban bagi seluruh komunitas," kata Kepala FAA Dan Elwell, seperti dilaporkan BBC, Selasa (13/2/2019).
BACA JUGA: Pesawat Ethiopia Jatuh, AS Beri Batas Waktu untuk Boeing
Paul Hudson, presiden FlyersRights.org dan anggota Komite Penasihat Pembuat Aturan Penerbangan FAA, meminta pesawat tersebut dilarang terbang.
"Sikap 'tunggu dan lihat' FAA membahayakan nyawa serta reputasi keamanan industri penerbangan AS," kata Hudson, dalam sebuah pernyataan.
Apa yang diketahui tentang jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines?
Pesawat Ethiopian Airlines jatuh di dekat Bishoftu, 60 km arah tenggara dari ibu kota. Penyebab kecelakaan tersebut belum jelas, namun pilot melaporkan ada masalah dan meminta untuk kembali ke Addis Ababa.
Para penyidik menemukan perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan digital, namun temuannya belum dibuka kepada publik.
Jarak penglihatan disebut bagus namun pemantau lalu lintas udara Flightradar24 melaporkan bahwa kecepatan vertikal pesawat tidak stabil setelah lepas landas.
Menurut Ethiopian Airlines, pilot bernama Kapten Senior Yared Getachew tercatat memiliki lebih dari 8.000 jam terbang dan memiliki catatan kinerja yang sangat baik.
BACA JUGA: Ini Deretan Maskapai di Dunia yang Operasikan Boeing 737 Max 8
Beberapa saksi mata yang bekerja di perkebunan di bawah jalur penerbangan pesawat mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka mendengar suara berderak dari pesawat.
"Ketika dia melayang, api mengikuti buntutnya, kemudian pesawat itu mencoba mengangkat hidungnya," kata seorang saksi mata, Gadisa Benti.
"Ketika pesawat melintasi rumah kami, hidungnya mengarah ke bawah dan ekornya ke atas. Ia menghantam tanah dengan hidungnya, lalu meledak."
Apa yang kita ketahui tentang pesawatnya?
Diluncurkan pada 2017, Max 8 merupakan terbaru dari seri 737. Pada akhir Januari, Boeing mengantarkan 350 model dari 5.011 pesanan.
Pesawat yang jatuh merupakan salah satu di antara enam dari 30 yang dipesan Ethiopian Airlines sebagai bagian dari ekspansinya. Pihak maskapai menyebut pesawat tersebut melalui pengecekan pertama yang ketat pada 4 Februari.
Boeing menyatakan sangat berduka atas kecelakaan ini dan mengirimkan tim untuk menyediakan bantuan teknis.
BACA JUGA: Pesawat Ethiopia Jatuh, 7 Negara Setop Pengoperasian Boeing 737 Max 8
Ini merupakan kecelakaan kedua dalam lima bulan yang melibatkan 737 Max 8, dan dibanding-bandingkan dengan kecelakaan Lion Air di Indonesia pada Oktober lalu yang menewaskan 189 orang.
Menyusul jatuhnya pesawat Lion Air, penyelidik mengatakan bahwa pilot tampaknya berkutat dengan sistem otomatis yang dirancang untuk mencegah pesawat mandek di angkasa, fitur terbaru dalam jet tersebut.
Sistem anti-mandek tersebut berkali-kali memaksa hidung pesawat turun, meskipun pilot berusaha mengangkatnya, menurut temuan awal. Pesawat Lion Air juga baru dan kecelakaan terjadi tak lama setelah lepas landas.
"Ini sangat mencurigakan," kata Mary Schiavo, mantan Inspektur Jenderal Departemen Transportasi AS, kepada CNN.
"Ada pesawat baru yang jatuh dua kali dalam setahun. Itu menjadi peringatan di industri penerbangan."
Setelah kecelakaan pada Oktober, Boeing mengirimkan pemberitahuan kepada maskapai yang memperingatkan mereka akan masalah dengan sistem anti-mandek.
Boeing diperkirakan akan merilis patch perangkat lunak bagi sistem tersebut untuk mengatasi masalah ini, seperti dilaporkan Reuters.
Belum jelas apakah sistem anti-mandek merupakan penyebab kecelakaan pada Minggu lalu itu. Pakar penerbangan mengatakan masalah teknis lain atau kesalahan manusia tidak bisa diabaikan.
Siapakah para korban?
Korban terdiri dari 30 kewarganegaraan, antara lain Kenya, Kanada, Ethiopia, Inggris, dan satu warga Indonesia bernama Harina Hafitz.
Perempuan berusia 60-an tahun tersebut merupakan satu dari tujuh staf World Food Program -badan pangan di bawah PBB– yang menumpang pesawat itu.
BACA JUGA: Tragedi Ethiopian Airlines, Ini Daftar Penumpang dan Negara Asalnya
Penyelidikan akan dipimpin oleh pihak berwenang Ethiopia dalam koordinasi dengan tim pakar dari Boeing dan Dewan Keamanan Transportasi Nasional AS.
Ethiopian Airlines menyebut pihaknya sudah menangguhkan semua armada 737 Max 8 hingga pemberitahuan lebih lanjut sebagai tindakan pencegahan ekstra.
Penerbangan pertama maskapai itu ke Kenya sejak kecelakaan mendarat pada 10.25 waktu setempat pada Senin (11/3), menggunakan model pesawat yang berbeda.
Editor : Nathania Riris Michico
https://ift.tt/2J3Klzl
March 12, 2019 at 07:13PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "2 Kecelakaan Maut Dalam 5 Bulan, AS: Boeing 737 Max 8 Laik Terbang"
Post a Comment