
JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) sejak Desember lalu mempertahankan suku bunga acuannya di level 6 persen meski di saat yang sama bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuannya. Namun, apa yang akan terjadi jika BI justru menurunkan suku bunga acuannya?
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, penurunan suku bunga acuan di tengah kondisi saat ini justru agak berisiko. Pasalnya, dapat membuat dana keluar dari bursa saham sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan.
"Agak beresiko karena dana asing bisa keluar. IHSG anjlok," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Sabtu (23/2/2019).
Penurunan suku bunga juga dapat membuat investor asing berpikir ulang untuk menanamkan investasinya di Indonesia khususnya di sektor perbankan. Pasalnya, penurunan suku bunga diikuti dengan penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit.
Di sisi lain, tahun ini perusahaan-perusahaan dalam negeri berencana untuk menerbitkan surat utang korporasi. Jika suku bunga acuan diturunkan maka dapat berimbas pada penurunan suku bunga obligasi sehingga membuat investor tidak tertarik membelinya.
"Kondisi ini membuat perusahaan kesulitan dalam mendapatkan pinjaman dari pasar obligasi," kata dia.
Kendati demikian, meski investasi portofolio rentan keluar tapi penurunan suku bunga acuan ternyata dapat mengerek investasi langsung ke Indonesia. Menurut dia, investasi langsung ini lebih bermanfaat untuk Indonesia dibanding investasi portofolio yang rentan keluar masuk.
"Investasi langsung ibarat memelihara sapi, investasi langsung bermanfaat untuk Indonesia. Sementara investasi portofolio ibarat anak macan, semakin besar justru mengancam perekonomian. Tahun 1998 ekonomi Indonesia kena krisis karena ketergantungan pada modal asing, yang sebagian besar adalah spekulasi," tuturnya.
Menurut dia, langkah BI pertahankan suku bunga acuan sudah tepat karena rupiah masih bergerak fluktuatif meski cenderung menguat. Dengan demikian, jika suku bunga diturunkan tentu dapat mengancam stabilitas rupiah.
Pasalnya, meski nilai tukar rupiah fluktuatif namun BI masih bisa mengandalkan cadangan devisa daripada menaikkan suku bunga untuk menstabilkan rupiah. BI mencatat, per 31 Januari 2019, cadangan devisa berada di posisi 120,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
"BI diperkirakan masih mengandalkan cadangan devisa bukan melalui instrumen suku bunga dalam jangka pendek ini untuk stabilikan kurs rupiah," ucapnya.
Selain itu, BI juga masih mengantisipasi arah kebijakan bank sentral AS, The Fed, yang mengindikasikan akan menahan kenaikan suku bunganya, Fed Funds Rate, di bulan ini. Hal ini terlihat pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
"BI juga mengantisipasi arah dari The Fed dan perkembangan makro ekonomi global khususnya AS dan China," kata dia.
Editor : Ranto Rajagukguk
https://ift.tt/2tBixIn
February 25, 2019 at 05:02AM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Prediksi Indef jika BI Turunkan Suku Bunga Acuan"
Post a Comment