
JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah akan terus menguat dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya, rupiah terus menguat mendekati Rp14.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp15.200 di tahun lalu.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, meski telah menguat signifikan rupiah masih di bawah nilai fundamentalnya (undervalue). Dengan demikian rupiah masih berpeluang untuk lebih menguat.
"Karenanya dengan undervaluation ini adanya kemungkinan-kemungkinanya rupiah akan menguat masih terbuka," ujarnya saat konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/2/2019).
Menurut dia, penguatan ini didukung oleh perlambatan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed, yang diperkirakan oleh pasar hanya terjadi satu kali tahun ini. Padahal, tahun lalu The Fed menaikkan suku bunga acuannya 25 persen sebanyak empat kali.
"The Fed pada 2019, kemungkinan kenaikannya semula tiga kali dan sebelumnya turun dua kali. Bacaan kami terakhir, The Fed tahun ini kenaikannya hanya satu kali saja," ucapnya.
Pelambatan kenaikan suku bunga acuan AS tersebut berimbas pada masuknya aliran modal asing dari AS ke negara berkembang seperti Indonesia. Oleh karenanya, BI yakin aliran modal asing akan terus bertambah ke depannya.
"Aliran modal asing masuk kuat, per Januari 2019 sebesar 2,2 miliar dolar AS. Aliran modal asing masuk akan terus terjadi di Februari 2019," kata dia.
Kemudian, pemerintah yang berupaya untuk menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang dapat menjadi stimulus penguatan rupiah. Tak hanya itu, mekanisme pasar yang berjalan dengan baik juga membantu penguatan rupiah.
"Didukung mekanisme pasar yang berkembang lebih baik, sekarang tidak hanya ada spot, juga berkembang ada swap dan domestic non deliverable forward (DNDF)," tuturnya.
Editor : Ranto Rajagukguk
https://ift.tt/2GRsauh
February 22, 2019 at 06:03AM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Gubernur BI Nilai Rupiah Masih Miliki Ruang untuk Menguat"
Post a Comment