MANILA, iNews.id - Maria Ressa, pemimpin redaksi Rappler, portal berita yang kritis terhadap pemerintah di Filipina, ditangkap di kantor pusatnya di Manila, Rabu (13/2/2019).
Ressa mengatakan tuduhan "cyber-libel" atau fitnah-siber itu sebenarnya adalah usaha pemerintah Presiden Rodrigo Duterte untuk membungkam media. Fitnah-siber diartikan pencemaran nama baik di dunia maya.
Ini merupakan peristiwa terbaru dari serangkaian tuduhan beragam yang ditujukan kepadanya.
Duterte yang mengatakan situs tersebut "berita palsu", sebelumnya menyangkal tuduhan terhadap Ressa karena alasan politik.
Wartawan Rappler pun melakukan live-stream penangkapan Ressa di Facebook dan Twitter. Rekaman streaming di Facebook memperlihatkan petugas berpakaian sipil berbicara dengan Maria Ressa, sementara sejumlah wartawan situs tersebut melakukan live-tweet kejadian itu.
Petugas National Bureau of Investigations (NBI) dilaporkan memerintahkan mereka untuk berhenti memfilmkan dan mengambil foto.
Miriam Grace Go, editor berita Rappler, kemudian mencuit bahwa agen NBI membawa Ressa ke luar dari kantor Rappler.
Chay Hofilena, pimpinan jurnalisme investigatif Rappler, mengatakan kepada BBC News bahwa kekhawatiran utama mereka sekarang adalah memastikan Ressa tidak harus bermalam di penjara.
"Maria saat ini berada di National Bureau of Investigations, dan kami berharap dia dapat mengajukan jaminan bebas malam ini, agar dia tidak perlu bermalam di penjara," katanya, seperti dilaporkan BBC, Kamis (14/2/2019).
"Kami akan mencari seorang hakim di pengadilan malam yang bersedia memberikan jaminan bebas. Pengacara kami saat ini sedang dalam proses mencarinya."
"Jika dapat mengajukan jaminan, maka dia dapat menjadi bebas," tambah Hofilena.
Maria Ressa (kiri) tampak dikawal oleh agen Biro Penyelidik Federal pada Rabu lalu. (Foto: AP)
Dakwaan terbaru terhadap Ressa berasal dari laporan tujuh tahun lalu terkait dengan dugaan hubungan seorang pengusaha dengan mantan hakim di pengadilan tertinggi Filipina.
Kasus ini muncul berdasarkan undang-undang kontroversial "cyber-libel", yang mulai berlaku pada September 2012, empat bulan setelah tulisan yang dipertanyakan tersebut terbit.
Para pejabat pertama kali menuntutnya pada 2017, tetapi sempat ditolak NBI karena batasan satu tahun untuk menuntut kasus fitnah sudah terlewati. Namun pada Maret 2018, NBI membuka kembali kasus itu.
Penangkapan dilakukan hanya dua bulan setelah Ressa dilaporkan mengajukan jaminan bebas terkait dugaan pemalsuan pajak, yang dia katakan juga "direkayasa".
Jika dia dihukum hanya berdasarkan satu tuduhan penggelapan pajak, Ressa dapat ditahan sampai sepuluh tahun penjara. Sementara tuduhan cyber-libel dapat menghukum seseorang sampai 12 tahun penjara.
"Saya terkejut bahwa hukum dilanggar sampai ke titik di mana saya tidak bisa lagi mengenalnya," kata Ressa kepada wartawan usai penangkapannya.
Rappler didirikan pada 2012 oleh Ressa dan tiga wartawan lainnya. Sejak saat itu media ini dikenal di Filipina lewat penyelidikannya yang tajam.
Rappler juga menjadi satu dari beberapa organisasi media di negara itu yang secara terbuka mengkritik Presiden Duterte, selalu mempertanyakan ketepatan pernyataannya dan mengecam kebijakannya.
Rappler terutama menerbitkan sejumlah laporan yang kritis terhadap perang Duterte melawan narkoba, di mana polisi mengatakan sekitar 5.000 orang meninggal dalam tiga tahun terakhir.
Pada Desember, media ini juga melaporkan pengakuan Duterte bahwa dirinya melecehkan seksual seorang pembantu pembantu rumah tangga.
Duterte menegaskan laporan situs tersebut adalah "berita palsu" dan melarang wartawan Rappler meliput kegiatan resminya.
Tahun lalu, negara mencabut izin situs berita, namun Duterte menyangkal bahwa tuntutan terhadap Rappler dan Ressa bermotif politik.
Siapa Maria Ressa?
Ressa merupakan wartawan veteran Filipina yang sebelum mendirikan Rappler, menghabiskan karirnya dengan CNN- pertama sebagai kepala biro di Manila dan kemudian di Jakarta.
Dia juga merupakan wartawan investigatif utama media AS tersebut terkait dengan terorisme di Asia Tenggara.
Dia memenangkan sejumlah penghargaan internasional karena liputannya dan dipilih menjadi Time Magazine Person of the Year 2018 karena usahanya mempertanyakan tanggung jawab kekuasaan di lingkungan yang semakin memusuhinya.
Apa arti penangkapan Ressa bagi jurnalisme Filipina?
Pendukung kebebasan pers memandang ini sebagai usaha untuk menggertak organisasi berita yang kritis, agar menjadi bungkam. National Union of Journalists Filipina, sebagai contohnya, segera mengutuknya.
"Penangkapan Ressa berdasarkan tuntutan fitnah-siber yang jelas-jelas direkayasa adalah tindakan persekusi tanpa malu dari sebuah pemerintahan penggertak," kata serikat tersebut kepada Reuters.
"Pemerintah sekarang sudah terbukti akan melakukan segalanya untuk membungkam media yang kritis."
Sementara itu, wartawan Rappler terus mengirim tweet terkait penangkapan Ressa dengan hashtag #DefendPressFreedom.
Para pengamat menyebut kebebasan pers di Filipina -yang pernah menjadi yang terkuat di Asia- menjadi lemah di bawah kepresidenan Duterte.
Sejak 1986, sebanyak 176 wartawan dibunuh di negara itu, sehingga menjadikan Filipina sebagai salah satu negara yang paling berbahaya bagi wartawan di dunia.
Pada 2016, presiden dikecam karena mengatakan sebagian dari wartawan tersebut memang layak mati.
Editor : Nathania Riris Michico
http://bit.ly/2UXCHaZ
February 14, 2019 at 03:55PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Pemimpin Redaksi Rappler Filipina Ditangkap Polisi di Kantornya"
Post a Comment