
WASHINGTON, iNews.id - Terkadang seorang guru bisa mengubah hidup seseorang. Hidup Michael Atkins berubah berkat mantan gurunya di SD, bertahun-tahun sesudah dia meninggalkan sekolah.
Hidup Michel tidak selalu berjalan lurus. Namun berkat panduan yang bersahabat, pintu nasib terbuka baginya dalam dunia pendidikan.
Michael pernah bekerja sebagai penjaga sekaligus pembersih di beberapa sekolah sebelum mendapat pekerjaan di Lowery Elementary, sekolah dasar di Denver, Colorado, Amerika Serikat (AS).
Pekerjaan ini yang mengubah hidupnya dan menempatkannya pada jalur untuk menjadi kepala sekolah di lingkungan tempat ia dibesarkan.
"Sangat bermakna kembali ke komunitas saya sendiri," kata Michael, kepada BBC.
Dia menyukai sekolah tapi dia merasa sekolah tidak mudah. Beberapa guru membuat para murid sadar akan perbedaan asal-usul dan penampilan mereka.
"Buat saya dulu, bersekolah itu seperti menjalani kewajiban saja," katanya mengingat-ingat.
Ketika dia meninggalkan sekolah di tingkat SMA, dia tidak memiliki bimbingan hidup.
"Tak ada yang menunjukkan pada saya bagaimana cara mengakses pendidikan tinggi. Tak ada keluarga saya yang memiliki pengetahuan demi membimbing saya."
Maka dia kemudian memutuskan bekerja sambil belajar di perguruan tinggi negeri. Dia butuh uang dengan cepat karena pada umur 19, dia sudah menjadi ayah.
Michael tahu bahwa ibunya membuka pusat penitipan anak, dan dia merasa dirinya pandai dalam berhubungan dengan anak-anak. Dia pun kemudian sekolah paruh waktu mengambil jurusan bisnis dan melamar menjadi asisten pengajar.
"Saya tak dapat pekerjaan-pekerjaan itu," kata Michael.
Namun dia berhasil mendapat pekerjaan sebagai penjaga sekolah. Ternyata kepala sekolah tempatnya bekerja adalah mantan gurunya ketika dia kelas 2 SD.
"Dia menyambut saya dengan baik, bertanya tentang keluarga saya. Saya bilang kepadanya bahwa saya ingin sekali mengajar anak-anak."
Dari situ, Carolyn Riedlin -yang dikenal Michael sebagai Nyonya Brown ketika masih SD dulu- membuka lowongan untuk Michael sebagai pekerja semi-profesional di sekolah itu.
"Dia adalah salah seorang guru SD saya yang menanamkan hal-hal baik kepada saya -menghargai diri sendiri dan rasa cinta. Dia sangat peduli. Dia bertanya tentang berbagai hal, tak hanya pelajaran saja. Hal-hal seperti itu berarti sekali," ujar Michael.
Sikap dan pendekatan seperti itu melekat pada diri Michael. Dia mengatakan bahwa perkembangan emosional dan kesejahteraan sama pentingnya dengan perkembangan akademis murid.
"Jika ada anak yang mengalami masalah dalam soal seperti identitas, budaya, atau sikap menghargai diri sendiri, maka akan sulit bagi mereka untuk belajar. Sulit untuk meminta kepada seorang anak yang mengalami trauma dalam hidup untuk duduk dan belajar subyek akademis."
Michael kini tampil di halaman depan laman Facebook SD Stedman sejak menjabat kepala sekolah di sana awal Juni lalu. Orang-orang memberi selamat kepadanya di media sosial.
Michael berkata banyak guru dari berbagai tempat di AS yang menghubunginya, ingin mengunjunginya di sekolahnya.
Editor : Nathania Riris Michico
http://bit.ly/2wUAPWz
June 15, 2019 at 02:36PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Kisah Mantan Petugas Kebersihan yang Jadi Kepala Sekolah di AS"
Post a Comment