Search

Banyak Beredar Meme tentang Zonasi, Mendikbud: Kalau Guyonan Tidak Apa-Apa

JAKARTA, iNews.id, - Kekecewaan, kritik, bahkan kecaman atas sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tidak hanya menyeruak di lapangan. Di media sosial (medsos), sistem zonasi riuh diperbincangkan.

Salah satu yang menjadi trending yakni berseliwerannya meme-meme lucu. Sebagai contoh, viral gambar orang beramai-ramai menggotong rumah untuk dipindahkan agar mepet sekolah negeri.

Kemendikbud bukannya tak sadar dengan hal itu. Dalam pandangan Mendikbud Muhadjir Effendy, selama dalam koridor sekadar gurauan, sindiran tentang zonasi dianggap wajar. Berikut respons mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini dalam wawancara dengan iNews.id, Sabtu (22/6/2019):

Di media sosial banyak meme beredar tentang zonas. Sebagai contoh ada tulisan ‘Menerima jasa pindah rumah ke lokasi dekat sekolah negeri’. Lucu tapi ironi. Tanggapannya seperti apa?

Tidak apa-apa kalau guyonan. Kalau lucu kita bisa tertawa. Kalau tidak buat ketawa ya kita lihat saja. Saya tidak melihat sesuatu yang istimewa dengan hal ini.

Tapi ini kan artinya banyak curhat warganet terkait masalah pendidikan?

Ya saya kira semua kebijakan tidak ada yang bisa memuaskan semua orang. Tapi orang yang mendapat amanah dari pemerintah apalagi membantu Presiden, itu kan tugas menteri menerjemahkan visi Presiden. Menteri tidak boleh buat visi sendiri dan Presiden selalu menekankan keberpihakan terhadap wong cilik. Pihak yang selama ini belum mendapatkan peluang yang cukup untuk mendapatkan akses.

Dan juga untuk membangun dari wilayah pinggir, jangan hanya diartikan parsial tempatnya di pinggir. Tapi mereka yang tersingkir, mereka yang mengalami segregasi atau ketersingkiran itu juga harus diperjuangkan.

BACA JUGA: Sistem Zonasi, Siswi Kembar Berprestasi di Sidoarjo Gagal Masuk Sekolah Negeri

Saya punya staf yang mengisahkan ada anaknya yang berteman satu kelas sejak satu SD dan kemudian masuk SMP. Yang anaknya staf saya lolos di sekolah yang passing gradenya tinggi, tapi sayang temannya ini tidak lolos sampai akhirnya dia sekolah di swasta yang jauhnya kira-kira 20 kilometer. Dia setengah enam (05.30) berangkat dan setengah enam (17.30) lagi baru pulang. Akhirnya dia putus sekolah.

Sekarang dia jadi tukang batu, sementara anak staf saya menjadi dokter gigi. Nah negara tidak boleh membiarkan kenyataan seperti ini. Kita harus berpihak ke orang-orang yang tersegregasi, terpinggirkan. Karena ini adalah program kita membangun dari pinggiran.

Bayangkan kalau ada anak yang karena dia dari keluarga tidak mampu dan karena nilai akademisnya rendah dia harus sekolah sampai 20 kilometer, sementara 100 meter dari tempatnya ada sekolah.

Soal kebijakan pasti harus berpihak kepada keberpihakan. Tidak ada kebijakan yang betul-betul bisa memuaskan semuanya, dan setiap kebijakan itu ada yang bisa didapat, tapi disitu ada pengorbanan. Karena itu saya mohon kesadarannya kepada semuanya bahwa negara itu harus melayani semuanya tanpa kecuali.

Saya juga melihat komentar di Facebook saya, misalnya mengeluh ’wah anak saya sekolahnya kumpul dengan calon preman, calon-penjahat, calon pencuri’. Saya kira itu suatu sikap mental yang tidak patut karena seolah-olah negara ingin memperhatikan anaknya yang nanti akan jadi calon pejabat atau calon orang berhasil dan oleh karena itu dia tidak ikhlas dengan dicampur dengan anak yang dianggap preman itu.

Saya kira kita harus mencoba berempati, membayangkan bagaimana kalau dia sebagai orangtua anaknya disebut orang lain akannya jadi calon preman, akan jadi calon penjahat. Dan ini adalah sikap mental yang harus diubah dan ini bagian dari target kita.

Bagaimana dengan pandangan sistem zonasi telah menghilangan label sekolah favorit?

Memang sekarang masih banyak masyarakat yang berburu sekolah favorit dan itu hak. Karena itu masih kita beri ruang sekitar 5-15 persen. Tetapi kalau yang sudah breprestasi di dalam zona itu sudah otomatis.

Dan saya tekankan sekali lagi bahwa zonasi ini tidak melulu untuk PPDB. Tapi, semua persoalan pendidikan akan diselesaikan dengan zonasi. Dan sudah sebetulnya. Sekarang ini yang sedang kami persiapkan dan saya minta untuk dilaksanakan ialah rotasi guru.

BACA JUGA: Sistem Zonasi, 10 Sekolah di Mojokerto Kekurangan Murid

Jadi guru tidak boleh lagi ada di satu sekolah tapi harus tersebar. Apalagi ketidak merataan guru setelah dipotret dengan pendekatan zonasi kentara sekali ada sekolah yang isinya sebagaian besar PNS dan ada sebagaian lagi guru honorer. Dan ini tidak boleh dibiarkan. Harus ada kebijakan rotasi. Ada tour of duty dan tour of area itu. Termasuk sarana prasarana akan kita lihat nanti.

Dengan zonasi kelihatan sekali sekolah yang sarana-prasarana sangat tertinggal dan yang sudah sangat maju. Kenapa maju karena di sini ada sekumpulan keluarga kaya yang bisa memberikan kontribusi kepada sekolah dan anak-anak yang pintar-pintar karena hasil seleksinya seperti itu. Sementara ada sekolah yang kualitas akademisnya rendah karena dari keluarga tidak mampu karena sarana-prasarana nya menjadi tertinggal. Ini akan tangani secara bertahap tetapi tetap simultan.

Menurut Anda, mengapa sistem zonasi ini menimbulkan perdebatan?

Jadi memag ada bebeapa darah terutama yang telat merespons peraturan yang ada. Dan aspirasi masyarakat yang masih belum berubah tentang sekolah favorit. Dan saya akui memang masih ada arus kerja lebih keras untuk sosialisasi kepada masyarakat dan seterusnya.

Jadi banyak hal yang harus kita kerjakan terkait untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Dan saya berharap kerjasama dari semua pihak terutama pemerintah daerah karena sekarang anggaran pendidikan sebagian besar sudah di daerah.

Sebanyak 64 persen dari total APBN yang dialokasikan untuk pendidikan 20 persen itu ada di daerah. Sementara yang di pusat terutama yang diperoleh Kemendikbud itu hanya sekita 7 persen lebih yang tentu saja tidak mungkn itu digunakan membenahi pendidikan secara frontal tanpa dukungan dari provinsi dan kabupaten kota.

Editor : Zen Teguh

Let's block ads! (Why?)



http://bit.ly/2x9OPvD
June 23, 2019 at 07:01PM

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Banyak Beredar Meme tentang Zonasi, Mendikbud: Kalau Guyonan Tidak Apa-Apa"

Post a Comment

Powered by Blogger.